Jendela Penelitian

Belajar Agama dengan Teknologi Empat Dimensi


Foto

Wabah virus corona atau covid-19 yang melanda dunia telah berhasil melumpuhkan berjalannya berbagai sistem lebih dari 200 negara di belahan bumi, salah satunya adalah sistem pendidikan. Sehingga, belajar dari rumah merupakan pilihan terbaik menjamin sistem pendidikan terus berjalan dan membantu pemerintah untuk menekan laju penyebaran wabah virus ini.

Dalam kondisi yang demikian, Indonesia dengan jumlah penduduk yang lebih dari 270 juta dengan keadaan geografis yang sangat luas memerlukan media yang tepat untuk menjamin pembelajaran dari rumah dapat terlaksana dengan baik. Pembelajaran yang bergantung kepada koneksi jaringan internet hanya dapat digunakan dengan maksimal di daerah perkotaan atau daerah yang terjangkau oleh jaringan internet yang baik.

Hal ini tentu saja tidak berlaku untuk daerah-daerah terpencil, misalnya. Sehingga, media-media pembelajaran yang tidak tergantung seutuhnya pada jaringan internet perlu dimaksimalkan peranannya dalam mendukung pembelajaran dari rumah.

Dalam hal ini, saya melihat bahwa Teknologi Augmented Reality (AR) mungkin bisa menjadis salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. AR merupakan teknologi animasi yang dapat menjadikan pembelajaran menjadi menyenangkan bila dihubungkan dengan gawai (smartphone). Teknologi ini membuat bahan ajar didalam sebuah media tulis (marker) seperti kertas dapat bergerak dan bersuara seperti kartun 4 dimensi bila disorot dengan menggunakan kamera ponsel seluler.

Di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi seperti gawai telah memberikan dampak baik positif maupun negatif terhadap anak-anak. Fitur atau aplikasi pada gawai yang mampu menggantikan peran dari berbagai alat eletronik yang berukuran besar seperti komputer, jam, kalkulator dan game elekronik telah memikat anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan gawai.

Kecenderungan ini tentu dapat menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan bagi anak-anak. Sebaliknya, jika itu dikelola dengan baik tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa.

Memaksimalkan fungsi gawai sebagai media ajar merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mengelola kecendrungan anak dalam bermain. Hal ini mampu menjadi sebuah kegiatan belajar yang menyenangkan bagi anak dan menjadi solusi yang tepat pada situasi yang mewajibkan mereka berlajar di rumah, seperti saat ini.

Kembali pada teknologi AR. Teknologi ini sangat bermanfaat bagi pembelajaran, misalnya, doa singkat untuk anak-anak. Dalam penelitian ini doa singkat seperti doa masuk ke kamar mandi, doa masuk kedalam rumah dan doa sebelum makan akan di desain dalam suatu modul. Teknologi AR akan digunakan sehingga modul yang telah dirancang dapat dinikmati secara 4 dimensi melalui sebuah aplikasi yang telah di unduh pada smartphone.

Modul yang berisikan gambar dan tulisan kegiatan doa singkat seperti yang ditampilkan dalam gambar 1, merupakan media yang akan digunakan oleh anak-anak untuk belajar doa singkat menggunakan teknologi AR. Modul ini dirancang seindah mungkin dengan tampilan yang cerah dan dilengkapi dengan tulisan Doa singkat dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Teknologi AR yang dihasilkan dengan menggunakan perangkat lunak Unity dapat menghasilkan objek yang bergerak dan bersuara, sesuai dengan peragaan dan bacaan doa singkat masuk ke kamar mandi, doa singkat sebelum masuk rumah dan doa singkat sebelum makan yang secara berturutan akan ditampilkan pada Gambar 2(a), 2(b) dan 2©.

Modul yang telah selesai dirancang dan telah mendapatkan tekologi AR akan dijadikan sebagai sebuah aplikasi yang akan didaftarkan pada playstore, sehinga dapat digunakan melalui gawai.

https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/Screenshot-40-300x52.png

Selanjutnya aplikasi yang telah terinstall pada gawai seperti pada Gambar 3 akan digunakan sebagai media belajar yang menyenangkan dalam belajar dan menghapal doa singkat. Untuk itu kamera pada smartphone perlu diarahkan pada modul, seperti yang tergambar pada Gambar 4(a) hingga 4(d).

Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa gerakan dan suara pada Doa singkat tertentu dapat dinikmati seolah-olah seperti menonton film animasi 4 Dimensi. Hasil ini tentu saja dapat mendorong atau memancing semangat anak-anak dalam menyenangi pembelajaran Doa dari rumah. Sehingga tanpa disadari mereka telah melihat dan mendengar berulang-ulang sebuah Doa tanpa diikuti rasa jenuh atau bosan. (AA/Hik)

Oleh: Rado Yendra

Diupload oleh : HIK (-) | Kategori: Jendela Penelitian | Tanggal: 05-05-2020 09:23