Minggu, 30 April 2017






Manusia Diciptakan Pandai Berbahasa

EDUPARK UMS (Suara Merdeka)- MANUSIA diciptakan sempurna, berbeda dari binatang atau makhluk lain. Salah satu hal yang membedakan manusia dari heswan adalah kemampuan berbahasa. Ada jutaan bahasa di bumi dan masing masing cukup kompleks. Manusia diciptakan pandai berbicara sebagaimana firman Allah, "Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara (QS: Ar Rahman 1-4).

Bagaimana penjelasan pakar psikolinguistik tentang hal ini? Psikolinguistik mempelajari perilaku berbahasa manusia (verbal behavior), yang salah satu topik bahasannya adalah landasan biologis yang membuat manusia berbahasa. Agar manusia pandai berbicara, Sang Pencipta telah mendesain secara biologis organ wicara agar mudah menciptakan bunyi apa saja.

Dibanding dengan primata yang terdekat dengan manusia yaitu simpanse, desain biologis organ wicara manusia jauh lebih sempurna. Walau terlihat mirip, komposisi genetis keduanya sangat berbeda sehingga manusia dapat berbahasa dan simpanse tidak.

Simpanse memiliki lidah yang tipis dan panjang, yang semuanya berada di dalam mulut yang sempit sehingga tidak dapat leluasa bergerak ke atas, bawah, depan, dan belakang. Desain demikian tidak memungkinkannya untuk memodifikasi arus udara menjadi bunyi yang berbeda-beda.

Lidah manusia lebih tebal dan menjorok sedikit ke tenggorokan sehingga sangat fleksibel dan leluasa bergerak. Desain demikian memungkinkannya untuk menghasilkan bermacam macam vokal (a, i, u, e, o). Kontak lidah dengan titik-titik artikulasi tertentu dapat mengahsilkan berbagai bunyi konsonan (b, c, d, j, k, g,l, p, dll.). Bentuk dan letak gigi pada simpanse merupakan deretan yang terputus- putus, ukuran panjangnya tidak sama, dan letaknya miring ke depan.

Desain demikian tidak memungkinkan gigi atas dan bawah bertemu. Bibir simpanse lebih tebal sehingga tidak fleksibel, tidak dapat diatur untuk bertemu guna menghasilkan bunyi yang berbeda-beda. Gigi manusia berjarak rapat, tingginya rata, dan tidak miring ke depan membuat udara yang keluar dari mulut mudah diatur. Bibir manusia lebih tipis sehingga lebih fleksibel dan mudah digerakkan untuk menghasilkan bunyi berbeda.

Bibir atas bertemu dengan bibir bawah akan menghasilkan bunyi /m/, /p/, /b/. Saat bibir bawah ditarik ke belakang dan menempel pada ujung gigi atas akan menghasilkan bunyi /f/ dan /v/. Epiglotis dan velum simpanse membentuk kelep yang kedap air sehingga memungkikannya untuk bernafas, makan, dan minum secara bersamaan. Epiglotis manusia jauh dari mulut dan velum.

Letak yang demikian memang berbahaya karena makanan yang masuk dapat mudah kesasar ke laring menuju paru-paru sehingga tersedak (maka agama melarang orang makan sambil berbicara). Namun letak demikian sangat menguntungkan untuk berbahasa. Ruang yang lebar dan panjang pada tenggorokan dapat memberikan resonansi yang lebih baik dan lebih banyak untuk menciptakan bunyi oral maupun nasal yang bermacam-macam (Aitchison; Soenjono).

Di samping struktur mulut (lidah, gigi, bibir), rongga hidung, rongga mulut, dan rongga tenggorokan, alat pernapasan manusia juga sangat penting dalam menghasilkan suara, seperti rongga dada, difragma, paru-paru, dan saluran udara atau trachea. Rongga dada berfungsi menekan paru-paru yang mengakibatkan arus udara keluar sesuai dengan tingkat tekanan. Proses ini mengakibatkan terjadinya pemenggalan kata.

Sekat rongga dada atau diafragma terdiri dari otot-otot memisahkan alat pernafasan dan pencernaan. Diafragma yang turun naik menekan paru-paru lewat tekanan rongga dada. Tekanan inilah yang mengakibatkan unsur letupan dalam bunyi bahasa seperti bunyi /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/. Paru-paru manusia sangat elastis, dapat berkembang dan mengempis menyesuaikan dengan kebutuhan.

Paru-paru terdiri dari panampung udara (air sacs), saluran udara dan pembuluh darah. Saat berbicara, kita menarik nafas yang panjang sehingga paru-paru menjadi besar. Udara ini dihembuskan keluar secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Saluran udara atau trachea merupakan tempat lewatnya udara dari paru-paru untuk diteruskan ke rongga hidung maupun rongga mulut.

Udara merupakan bahan utama untuk menghasilkan bunyi atau suara. (Aitchison; Soenjono) Jadi, mengapa manusia pandai berbahasa? Secara biologis manusia diciptakan untuk pandai berbahasa. Organ wicara manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga mudah untuk menghasilkan bunyi apa saja. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dan salah satu kesempurnaan adalah kemampuan berbahasa. (43)

- Endang Fauziati, Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Diupload oleh : hans (-) | Kategori: Berita Koran Pendidikan | Tanggal: 15-08-2016 11:03



Baca juga dalam Kategori yang Sama:






©2008 - 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam - Kementerian Agama Republik Indonesia
Halaman ini diproses dalam waktu 0.003522 detik