Berita Pendidikan Islam

Konsep Mutu dan Implementasinya dalam dunia Pendidikan Islam Indonesia


Foto

Oleh: Zulfakhri Sofyan / ASN Ditjen Pendis

Pendahuluan

Mutu sering kali dipersepsikan dalam pemahaman yang berbeda-beda, sehingga tak jarang malah ditinjau dari celah pemahaman yang sempit. Diantaranya mutu dapat didefinisikan sebagai peningkatan produktivitas dalam cakupan yang luas, penurunan biaya-biaya, perluasan dan peningkatan penetrasi pasar, dan penguatan daya saing.

Philip B Crosby melakukan pendekatan terhadap upaya peningkatan mutu melalui transformasi budaya. Menurut Crosby, peningkatan mutu dapat dilakukan dengan melibatkan setiap orang dalam organisasi dengan alur kebijakan top-down dari pimpinan kepada para pelaksana. Langkah yang dilakukan adalah: mendefinisikan mutu yang sesuai persyaratan, mencegah, menetapkan standard bebas cacat, dan menurunkan biaya kualitas.

Joseph M. Juran berpendapat bahwa mutu adalah apabila hasil produksi, baik produk, barang, maupun jasa berhasil memenuhi kepuasan pelanggan dan bebas cacat. Langkah yang dilakukan adalah: perencanaan, pengendalian dan perbaikan.

W. Edward Deming mendefinisikan bahwa mutu adalah jika hasil produksi, baik produk, barang, maupun jasa, bebas dari penyimpangan standard dan dengan alat statistik dilakukan pengukuran serta perbaikan secara berkesinambungan. Deming menerapkan langkah perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut (PDCA), untuk secara terus menerus meningkatkan mutu.

Total Quality Management (TQM) atau manajemen mutu terpadu dijabarkan sebagai suatu pendekatan manajemen organisasi yang berazaskan pada kualitas, berdasar partisipasi seluruh anggota organisasi. Sasaran keberhasilan jangka panjangnya adalah kepuasan pelanggan dan keuntungan atau benefit bagi anggota organisasi dan masyarakat (karyawan, perusahaan, pemerintah, masyarakat) yang sering disebut sebagai stake holder. Total Quality Management pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis, kemudian di terapkan pada dunia pendidikan. Penerapan manajemen mutu dalam pendidikan ini lebih populer dengan sebutan istilah Total Quality Education (TQE).

Dalam penggunaan manajemen mutu terpadu, dunia pendidikan memposisikan dirinya sebagai intitusi atau industri jasa. Yakni industri atau institusi pendidikan yang memberikan pelayanan jasa (service) yang bermutu, yang memberikan kepuasan kepada pelanggan (customer), baik internal customer maupun external customer.

Menjaga mutu sebuah produk akan membuat pelanggan semakin percaya terhadap produk dan produsen produk tersebut. Dalam upaya menjaga mutu tersebut dikembangkan sebuah sistem pemeriksaan yang dikenal dengan nama quality control (kontrol mutu) atau pengendalian mutu.

Konsep Pengendalian Mutu

Konsep pengendalian mutu merupakan salah satu dari tiga gagasan tentang mutu yang masing-masing memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu kontrol mutu/pengendalian mutu (quality control), jaminan mutu (quality assurance), dan mutu terpadu (total quality). Dari ketiga konsep tentang mutu tersebut, kita hanya membatasi pada konsep yang pertama yaitu pengendalian mutu (kontrol mutu/quality control) pada pendidikan.

Konsep pengendalian mutu pada pendidikan diambil dari konsep pengendalian mutu pada perusahaan atau industri. Pada perusahaan kita mengenal yang namanya bagian pengendali mutu yang secara langsung bertanggungjawab kepada manajemen perusahaan. Tugas dan tanggungjawabnya terpisah dari bagian produksi maupun bagian pemasaran. Kalau sistem pengendalian mutu ini bersifat menyeluruh maka kita sebut sebagai TQC (Total Quality Control) atau Total Pengendalian Kualitas.

Dalam TQC di sebuah perusahaan tugas pengendalian mutu dibebankan kepada bagian pengawasan produksi, dimana fungsinya adalah hanya sebagai koordinator pengawasan tapi membawa efek terhadap kualitas suatu barang yang akan diproduksi.

Pada awalnya pengendalian mutu hanyalah proses pasca produksi yang memiliki fungsi untuk mendeteksi dan mengeliminasi komponen-komponen atau produk gagal yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan. Pada perkembangannya fungsi pengendalian mutu tidak hanya dilakukan setelah proses produksi (post process) akan tetapi dilakukan pada saat sedang melakukan produksi (within process). Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerugian yang lebih besar karena banyaknya produk gagal yang tidak dapat dipasarkan sementara sudah melalui proses produksi yang panjang dengan biaya yang sama dengan produk yang sesuai standar. Pengendalian mutu seperti ini biasanya terjadi pada perusahaan yang memproduksi barang bukan jasa.

Pengendalian mutu pendidikan (atau yang memproduksi jasa lainnya) merupakan pengendalian mutu yang hanya dapat dilakukan pada proses produksi (within process), karena pada saat pasca produksi (post process) produk jasa tidak mungkin dapat diperbaiki untuk selanjutnya diproses ulang. Dalam industri/institusi jasa, kegagalan within process merupakan kegagalan dalam post process. Karena mutu dalam industri jasa hanya dapat dilihat dari kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan hanya dapat diketahui dalam post process, sedangkan kepuasan pelanggan hanya dapat dirasakan pada saat proses (within process) yaitu pada saat customer/pelanggan bersentuhan langsung dengan duta perusahaan dalam bentuk pelayanan.

Peran Manajemen Sumber Daya manusia

Dalam industri jasa, termasuk dunia pendidikan, penerapan konsep pengendalian mutu lebih dititikberatkan kepada peran sumber daya manusia, yaitu yang bersentuhan langsung dengan pelanggan (customer) dari level yang tertinggi sampai dengan yang terendah: Manager, Kepala Departemen, Kepala Bagian, Kepala Sub Bagian, Seksi-seksi, sampai dengan tingkat pelaksana, dan marketing. Dalam dunia pendidikan yang sering kita kenal adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Tata Usaha, Guru Kelas, Guru Bidang Studi, Petugas Keamanan, sampai Penjaga Sekolah, dan Bagian Humas atau Marketing.

Sering kita dapati bahwa justru yang menjadi kesan pertama pelayanan jasa yang dirasakan oleh pelanggan adalah ketika bertemu dengan pegawai pada tingkat yang paling rendah dibandingkan dengan pada level managerial, seperti ketika kita mulai masuk ke dalam bank yang pertama menyapa adalah petugas keamanan, kemudian teller, dst. Atau ketika kita datang ke sekolah, mungkin yang pertama kita jumpai adalah penjaga sekolah, petugas keamanan, atau bagian administrasi. Pelayanan yang baik pada ujung tombak dari institusi jasa akan memberikan kesan menyeluruh tentang jasa pelayanan dari institusi tersebut, sehingga ketika pelanggan merasa puas dengan pelayanan pada level terendah akan memunculkan citra yang baik bagi institusi secara keseluruhan. Atau jika sebaliknya maka akan memunculkan citra yang sebaliknya pula.

Peran manajemen sumber daya manusia dalam pengendalian mutu kepada pelanggan adalah melakukan pembinaan, pelatihan, pengawasan dan peningkatan kapasitas pegawai (SDM) adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan. Dalam pendidikan SDM salah satu peran yang paling menonjol dalam mutu kepuasan pelanggan (siswa dan orang tua siswa) adalah guru. Contoh yang akan menjadi objek pembahasan adalah peran Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di sekolah dan peran Kementerian Agama (pemerintah) dalam pengendalian mutu Pendidikan Agama Islam.

Untuk meningkatkan kualitas SDM Guru (PAI) banyak hal yang harus kita lakukan sebagai aparat pemerintah, pembinaan dan pengawasan/kontrol terhadap mutu guru PAI adalah tanggung jawab Kementerian Agama, yang bertugas sebagai Badan Pengendali Mutu Pendidikan Agama.

 Konsep  Pengendalian  Mutu dalam Pendidikan  

Hal yang paling pokok dalam konteks pengembangan sumberdaya Manusia terutama guru adalah bagaimana menumbuhkan etos kerja, prefesionalitas dan produktifitas sebagai ujung tombak dilapangan. Oleh karenanya mereka dituntut untuk dapat mengelola  kegiatan pendidikan terutama dalam menangkap potensi sekaligus kelemahan peserta didik termasuk bagaimana agar siswanya mau dekat dengan keinginan berubah, keinginan untuk menjadi lebih baik,  keinginan untuk membentuk peradaban masa depan.

Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan diharapkan  juga berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia secara nasional. Hal ini sangat penting, mengingat dewasa ini kita dihadapkan pada berbagai kesempatan dan tantangan, baik yang bersifat nasional maupun global, padahal kesempatan dan tantangan tersebut hanya dapat diraih dan dijawab apabila sumber daya manusia yang kita dimiliki berkualitas.

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan tersebut secara nasional merupakan salah satu agenda yang terus menerus dilaksanakan oleh pemerintah. Upaya ini dilakukan agar pendidikan dapat memberikan jaminan kualitas kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Oleh karena itu, kita semua sadar bahwa guru mempunyai fungsi dan peran serta posisi yang sangat strategi dalam sistem pendidikan karena ditangan merekalah hitam putihnya Pendidikan. Karena begitu penting dan strategisnya posisi seorang guru dalam mencerdasakan anak manusia maka kita sebagai Pemerintah harus dan perlu  untuk sesegera mungkin membenahi, meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan dan kualitas mereka agar proses Pendidikan berjalan sesuai dengan harapan Kita bersama.

Walahualam bisawab

Diupload oleh : HIK (-) | Kategori: Artikel | Tanggal: 21-09-2020 19:57